Diberdayakan oleh Blogger.

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

P. Antoine Vitte, MEP

Written By Unknown on Sabtu, 28 Mei 2016 | Sabtu, Mei 28, 2016

Pada tahun 1986 P. Antoine Vitte menginjakkan kakinya di Siambul, suatu kampung Talang Mamak yang terletak di Kec. Sebrida (sebelum pemekaran), sekarang nama kecamatannya adalah Batang Gansal. Ia bertemu dengan Bpk. Nafsun, kepala desa Siambul pada waktu itu. Bapak inilah yang mengundang pastor untuk datang ke kampungnya dalam suatu acara di Jakarta. Undangan itu dijawab dengan kehadiran P. Antoine Vitte, MEP. Kehadiran itu dimaksudkan untuk menyebarkan iman Kristen di desa Siambul yang pada waktu itu masih menganut kepercayaan tradisional yang pada saat itu tidak dianggap sebagai suatu agama dan tidak ada kolomnya di KTP. Sementara itu bila tidak memiliki agama, dianggap sebagai masyarakat yang tertinggal dan animis. Ada rasa malu jika tidak mempunyai suatu agama.

Kehadiran P. Antoine Vitte di Siambul memulai babak baru kehidupan rohani, sosial dan ekonomi masyarakat desa Siambul. P. Vitte mendirikan rumah sederhana sebagai tempat tinggalnya di sana dengan maksud agar dia bisa tinggal bersama masyarakat Siambul sehingga komunikasi dengan masyarakat lebih mudah. Pastor bisa mengenal lebih jauh kehidupan masyarakat demikian pun masyarakat dapat lebih mengenal P. Vitte. Pastor Vitte mulai mendorong anak-anak Siambul untuk bersekolah. Bukan cuma mendorong tapi dia turut membantu mereka untuk bersekolah misalnya dalam hal biaya. Bahkan beberapa orang dikirim ke Jambi untuk menikmati pendidikan di sana. Pelan-pelan semangat masyarakat untuk bersekolah pun bangkit. Di bidang ekonomi P. Vitte mengupayakan sebidang lahan yang cukup luas untuk ditanami karet. Lahan itu dibersihkan bersama, setelah tertanam, lahan dibagi kepada masyarakat dengan luas 2 ha per setiap anggota yang terlibat dan mau bergabung untuk membuka lahan tersebut. Hasilnya juga dipasarkan secara bersama. Sayang bahwa sekarang ini sebagian besar dari lahan tersebut telah terjual pada perusahaan batu bara yang melakukan penggalian batu bara di desa Siambul. Di bidang sosial P. Antoine Vitte mencoba menyadarkan masyarakat akan pentingnya ketekunan dan kerajinan untuk bekerja dan tidak dininabobokkan oleh kebiasaan masyarakat yang kurang positif untuk perkembangan seperti kebiasaan berjudi yang diadakan di luar pesta-pesta adat. P. Antoine Vitte juga mendatangkan tenaga kesehatan untuk meningkatkan kebersihan dan kesehatan masyarakat. Tenaga kesehatan itu tinggal di Siambul dan digaji oleh P. Antoine Vitte. Dalam perkembangan selanjutnya pemerintah membangun puskesmas di desa tersebut dan yang menjaga serta menjadi perawat di sana adalah Frida Karo. Guru-guru juga didatangkan ke Siambul untuk mengajari anak-anak. Melihat gerakan yang dilakukan oleh P. Antoine Vitte pemerintah pun tergerak untuk membangun sekolah di desa itu. Masyarakat Talang Mamak dari daerah lain juga meminta kehadiran P. Antoine Vitte di desa mereka, misalnya desa Talang Kedabu. Di bidang agama P. Antoine Vitte mengajari masyarakat iman Katolik dan demi kelancarannya didatangkan beberapa guru-guru agama. Para guru agama tersebut bisa lebih jauh masuk ke pedalaman untuk menjumpai masyarakat Talang Mamak. Pastor ini pun bergerak lebih jauh lagi bahkan sampai Dusun Tuo di hulu Sungai Batang Gansal untuk memberdayakan masyarakat Talang Mamak. Kenderaan-kenderaan seperti sepeda motor binter disiapkan demi lancarnya perjalanan para guru itu. Semua itu dijalankan dalam kerjasama dengan Keuskupan Padang.

Untuk kalangan kaum muda, P. Antoine Vitte memberikan fasilitas olahraga seperti bola volley dan bola kaki demikian juga seperangkat alat musik modern seperti band. Semuanya ditujukan untuk pemberdayaan masyarakat Talang Mamak. Masyarakat desa Siambul pun sangat gembira dan menyambut kehadiran P. Antoine Vitte. Reaksi sebaliknya malah muncul dari pemerintah kecamatan. Pihak pemerintah datang ke Siambul pada malam hari untuk menangkap pastor ini. Tentara turut dibawa untuk menangkapnya. Hal itu tentu membuat masyarakat marah sehingga mereka berkumpul dengan tombak dan parang di tangan untuk menghadang maksud buruk pemerintah itu. Usaha pemerintah menghalangi pelayanan dan pemberdayaan P. Antoine Vitte tidak berhasil karena masyarakat mendukung dan mencintai pastor ini. Demikian juga kepala desa Siambul sungguh mendukung karya pastor ini di desanya. Pelayanan pun berjalan terus meski di sana-sini ada tantangan dan kesulitan khususnya dari pemerintah.

Siapa Pastor Antoine Vitte? Dia berasal dari Perancis. Dia menjadi imam diosesan di Perancis yang kemudian memutuskan untuk pergi bermisi ke Asia. Dia pun diutus oleh MEP (para imam misionaris dari Perancis). Pertama-tama dia diutus ke Vietnam. Pergolakan politik di Vietnam membuatnya harus meninggalkan negeri itu karena tidak tahan dengan penangkapan dan penyiksaan. Dia keluar dari sana dan kemudian masuk ke Indonesia. Dia pun tinggal di desa Siambul, suatu kampung yang sederhana di Nusantara ini ribuan kilometer jaraknya dari Paris, Perancis untuk pemberdayaan masyarakat Indonesia khususnya Talang Mamak, salah satu suku asli Provinsi Riau.

Tulisan ini belum sungguh lengkap namun kiranya bermanfaat untuk mengenang jasa P. Antoine Vitte, MEP. Rasanya akan sia-sia sekali bila figur misionaris serta jasa-jasanya dilupakan begitu saja. Sekarang ini masih banyak saksi hidup di desa Siambul yang dapat diwawancarai. 

Bahasa Talang Mamak

Written By Unknown on Sabtu, 25 Oktober 2014 | Sabtu, Oktober 25, 2014

Apakah bahasa yang dipakai Suku Talang Mamak itu? Apakah suku ini punya bahasa tersendiri dan punya aksara khas Talang Mamak? Mungkin pertanyaan-pertanyaa seperti itu muncul dalam benak. Memang, untuk mengenal lebih jauh suatu entitas suku tertentu mengenali bahasanya sesuatu yang penting. Sebab dengan mengenal baik bahasa pengenalan akan suku itu bisa lebih lengkap dan lebih mudah. Dari bahasa yang dipakai kita bisa dengan cepat mengenal pola pikir, karakter dan cita rasa suku pemakainya. Kesadaran seperti itu dipakai oleh Belanda dulu untuk bisa mengalahkan raja-raja, penguasa daerah-daerah di nusantara ini. Orang-orang terpelajar diutus untuk mempelajari bahasa, budaya dan adat-istiadat. Setelah itu mereka dapat memasuki cita rasa dan selanjutnya mengalahkan para raja. Di sini tentu bukan maksudnya untuk menguasai apalagi menjajah Talang Mamak. Toh di jaman ini tidak boleh ada lagi penjajahan apalagi Talang Mamak justru sesama sebangsa dan setanah air. Agar semakin dapat menyokong mereka meraih kemajuan tentu perlu kita lebih mengenal mereka khususnya bahasa yang dipakai.

Dari pengalaman penulis dapat mengatakan bahwa suku Talang Mamak tidak mempunyai aksara khusus seperti suku Batak Toba, Simalungun, dan Karo. Biasanya adanya aksara menunjukkan kekhasan suatu suku khususnya dalam hal tulis menulis untuk mengungkapkan pikiran dan isi hatinya. Aksara adalah bentuk tulisan tertentu yang bisa dimiliki secara berlainan oleh suku-suku.

Orang Talang Mamak dalam mengungkapkan pikiran atau isi hatinya memakai bahasa tertentu yang mereka sebut sebagai Bahasa Talang Mamak. Bila dicermati bahasa itu pada dasarnya berasal dari Bahasa Melayu. Hal itu nampak pada banyaknya kata-kata yang sama, seperti bujang, awak, ayah, ayam. Seperti diketahui Bahasa Melayu adalah induk Bahasa Indonesia. Namun Bahasa Indonesia sekarang ini telah secara kuat dipengaruhi oleh berbagai bahasa lokal Nusantara dan bahasa-bahasa yang datang dari luar. Bahasa Talang Mamak juga demikian, ia termasuk Bahasa Melayu namun telah juga dipengaruhi oleh bahasa-bahasa lain.

Menurut sejarahnya Suku Talang Mamak turun dari Gunung Talang di Sumatera Barat. Nenek moyang mereka berpindah melalui Sungai Kuantan yang dikenal sebagai Sungai Indragiri di daerah Kabupaten Indragiri. Oleh karena itu bisa saja pada awalnya bahasa asli Talang Mamak adalah Minangkabau yang kemudian sungguh dipengaruhi oleh Bahasa Melayu setelah terjadi persentuhan dan pertemuan dengan Suku Melayu. Itu dapat diterima karena bila diperhatikan orang Talang Mamak akan cepat mengerti orang yang memakai Bahasa Minang. Demikian dari pengalaman penulis.

Orang Talang Mamak adalah suku yang berperasaan lembut dan halus. Itu nampak dari kata-kata dan bahasa yang mereka pakai. Mereka mempunyai logat tertentu yang kedengaran lembut dengan artikulasi yang terkadang kurang jelas di telinga pendengar. Selain itu mereka suka berbicara dengan pantun, pepatah, dan perumpamaan untuk mengungkapkan pikiran dan isi hatinya terlebih dalam pesta-pesta adat.

Sungai-sungai mengering di Talang Mamak

Written By Unknown on Jumat, 28 Februari 2014 | Jumat, Februari 28, 2014

Di Kecamatan Rakit Kulim Desa Durian Cacar ada sungai namanya Sungai Mahang. Kecamatan Rakit Kulim ini merupakan kecamatan yang masih muda di Kabupaten Indragiri Hulu, Propinsi Riau. Sungai ini melewati beberapa perkampungan termasuk juga dusun Sungai Mahang. Penduduk dusun hidup dari sungai ini. Mereka mandi dan bahkan saat-saat tertentu mengambil air minum dari situ. Banyak aktivitas masyarakat setempat terkait dengan sungai ini, mulai dari aktivitas sehari-hari seperti mencari ikan sampai pada upacara-upacara adat seperti cuci lantai dan mandi ke sungai pada pesta pernikahan adat.

Sewaktu bertugas di wilayah desa itu penulis pun cukup sering singgah di sungai tersebut untuk mandi terlebih pada musim kemarau ketika sumur galian mengering tanpa air. Kala kemarau airnya menjadi lebih bersih, di kala musim hujan air lebih keruh dan terkadang permukaan sungai naik sampai mengakibatkan banjir di sekitar sungai yang tentu menggenangi juga ladang-ladang masyarakat dan rumah-rumah penduduk yang berada dekat dengan aliran sungai. Begitu banyak cerita anak-anak sampai orang dewasa mengenai kegiatan mereka di sungai itu. Sayangnya cerita itu tidak lagi bisa diteruskan oleh generasi yang berikut. Ini tentu memilukan. Sebab sungai tersebut tidak lagi cocok disebut sungai yang terus mengalirkan kesejukan dan kehidupan bagi alam, tumbuhan dan pepohonan termasuk kehidupan manusia yang ada di sekitarnya. Sungai telah mengering. Air yang dulu tinggi dan terdengar mendesis alirannya kini menjadi sungai yang hampir tidak ada airnya lagi, kecuali di musim hujan. Sesudahnya air pun pergi entah kemana. Ikan-ikan seperti gabus, kepiting, udang, kepah, kura-kura, dsb yang dulu gampang dicari untuk dimakan kini sudah pergi entah ke mana. Kesejukan dan kesuburan dulu yang dihasilkan oleh aliran sungai kini sangat berkurang. Mengapa?

Hanya dalam kurun waktu tiga tahun ketika penulis berada di sana melihat semua perubahan itu. Pohon-pohon besar dan berjenis-jenis lenyap bertumbangan menyisakan kemirisan oleh karena chainsaw-chainsaw yang dibawa oleh manusia khususnya para pengusaha yang rakus dengan uang dan memilih hanya menanam sawit untuk mendapatkannya. Pohon-pohon karet di ladang-ladang masyarakat pun ditumbang dan diratakan dengan tanah. Akibatnya Sungai Mahang pun mengering, bukan itu saja ada banyak sungai di daerah itu yang kini mengering karena penebangan hutan dan penanaman sawit. Ini dulu bahkan sempat menciptakan konflik di antara penduduk sendiri seperti di Desa Talang Jerinjing dan Talang Kedabu yang terletak di kecamatan yang sama. Muncul patih dan batin-batin yang tak resmi yang tidak diakui oleh masyarakat namun legal menurut pemerintah. Yang dicari di situ adalah tanda tangan patih dan  batin ilegal tersebut agar pengusaha bisa masuk ke lapangan untuk membuka lahan. Patih dan batin yang sah memang sulit untuk didekati karena masih memilih untuk melindungi masyarakatnya, walaupun pada akhirnya tidak kuat juga bertahan dengan godaan-godaan uang. Mereka yang bertahan dianggap bodoh dan musuh kemajuan. Terbukti sekarang ini bahwa kebodohan mereka itu menjadi kebajikan, sebab bila mereka tidak dipermainkan dan diikuti tanah-tanah leluhur mereka pasti masih asri dan sungai-sungai yang dulu menjadi sumber kehidupan tentu kini masih bertahan dan akan diwariskan kepada anak cucu.

Untung tak didapat malang tak dapat ditolak demikian barangkali pepatah yang tepat untuk menjelaskan situasi di sana saat itu. Lahan-lahan karet masyarakat terjual dan diratakan dengan tanah. Kepada masyarakat diberi janji untuk mendapatkan gaji setiap bulan. Namun ternyata pada saat itu lahan menjadi terbengkalai karena pengusaha tidak melaksanakan janjinya bahkan lahan menjadi terbengkalai karena persoalan hukum yang menjerat. Proses awalnya keliru dan buruk akhirnya hasilnya pun buruk dan berdampak jelek. Pembukaan lahan demi pembangunan menimbulkan kepahitan dan penderitaan pada masyarakat. Namun slogan-slogan pembangunan dan kesejahteraan kerap disuntikkan pada masyarakat kecil demi kepentingan kaum penguasa dan pengusaha. 

Posisi tempat duduk dalam pesta dalam masyarakat Talang Mamak

Written By Unknown on Minggu, 26 Mei 2013 | Minggu, Mei 26, 2013



Bila diamati dengan baik pesta adat di dalam suku Talang Mamak, maka akan ditemukan beberapa pembagian tempat duduk demikian. Deskripsi ini lebih menjelaskan kebiasaan Talang Mamak yang terdapat di daerah Durian Cacar dimana dulu penulis tinggal beberapa tahun dan mengikuti berbagai acara pesta adat.

1. Posisi para pemimpin 
Para pemimpin yang terdiri dari patih, batin, manti, mangku, para ketua, biasanya duduk di bagian utama rumah adat. Mereka duduk di atas beberapa lapis tikar kecil yang dianyam khusus. Itu menunjukkan posisi mereka di dalam masyarakat. Mereka duduk berhadapan. Kepada mereka akan disuguhkan sirih untuk dimakan dan juga rokok, selain itu juga dihidangkan kopi atau teh manis. Dalam acara adat manti akan berbicara kepada patih atau kepada batin sambil menjabat tangan, membungkukkan badan dan melihat ke arah samping kiri. Dia menyampaikan kata-kata untuk menjelaskan isi dan maksud serta tujuan pesta. Hal ini disampaikan dalam bahasa pantun. Pada akhir pesta hal yang sama dilakukan untuk menyampaikan terima kasih kepada para pemimpin yang berkenan datang ke pesta, merestui pesta dan sekarang pesta sudah selesai. Ucapan maaf juga disampaikan pada saat itu bila ada kata-kata, sikap dan perbuatan yang kurang berkenan di hati. Dalam hal ini yang mempunyai pesta tidak pernah langsung bersentuhan atau berurusan pada penatua adat atau berbicara secara langsung dengan mereka. Semuanya diurus oleh para pemimpin adat tersebut.

2. Masyarakat biasa: pria
Di sekitar para pemimpin itu duduk masyarakat lain dalam posisi berbaris dua saling berhadap-hadapan. Mereka yang duduk di situ pada umumnya adalah kaum laki-laki, bukan hanya orang tua atau orang dewasa tetapi juga orang-orang muda bahkan yang masih sekolah. Orang muda itu pada waktu acara makan bersama, akan bertugas membagi makanan. Tidak diperkenankan kaum wanita berada di tengah kaum laki-laki itu untuk membagikan makanan. Biasanya lauk lebih dari satu macam dan ditaruh dalam beberapa piring atau mangkok kecil. Jd setiap orang akan memperoleh lebih dari tiga piring kecil atau mangkok yang berisi lauk dan sayur.

3. Kaum wanita
Kaum wanita duduk di bagian lain rumah secara berkelompok. Jadi akan sangat mudah melihat dalam pesta Talang Mamak tempat kaum wanita dan kaum pria. Biasanya kaum wanita makan sirih tetapi sebagian ada yang merokok. Yang duduk di posisi itu juga bukan hanya orang tua atau yang sudah menikah saja namun termasuk juga orang-orang muda. Agaknya hal ini merupakan kebiasaan di kalangan mereka. Kaum wanita biasanya memasak makanan di dapur dan bila waktu makan sudah tiba mereka membagikannya namun tidak boleh membagikannya di kalangan kaum pria.


Struktur Kepemimpinan Adat dalam Suku Talang Mamak

Written By Unknown on Rabu, 27 Maret 2013 | Rabu, Maret 27, 2013


Struktur Kepemimpinan Adat dalam Suku Talang Mamak:

Dalam Suku Talang Mamak ada posisi-posisi yang penting dalam kehidupan adat istiadat. Posisi-posisi itu sangat berperanan dalam kehidupan masyarakat terutama dalam urusan adat istiadat. Jabatan-jabatan itu antara lain:

1. Patih
Patih merupakan yang tertinggi dalam masyarakat Talang Mamak. Ia tidak dipilih secara demokrat melainkan diwariskan menurut aturan adat. Patih punya wilayah tertentu dan memiliki anggota-anggota yang dipimpinnya. Sekarang ini patih yang diakui oleh masyarakat Talang Mamak di Kabupaten Indragiri Hulu adalah Patih Layaran atau Patih Jusuf, yang tinggal di Desa Durian Cacar, Kec. Rakit Kulim. Patih digunakan pada umumnya di Kec. Rakit Kulim, tetapi di daerah Siambul dulunya digunakan Ria, tetapi sekarang ini Ria tidak ada lagi dan digantikan oleh kepala desa, atau pengulu.

2. Batin
Di bawah patih adalah batin. Batin juga mempunyai anggota dan wilayah tersendiri. Urusan-urusan anggotanyalah yang diurusnya berkaitan dengan adat dan bahkan urusan-urusan pemerintahan. Ia menjadi pemimpin di antara anggotanya. Sekarang ini ada cukup banyak batin di masyarakat Talang Mamak di Kabupaten Indragiri Hulu. Ada batin di Sungai Limau, Talang Perigi, Talang Kedabu, Durian Cacar, Talang Gerinjing, Siambul, dan Talang Sungai Parit.

3. Manti/Mangku
Di bawah batin adalah Manti. Manti dipakai pada umumnya di daerah Rakit Kulim. Di daerah Siambul di Kec. Batang Gansal yang biasa dipakai adalah Mangku. Manti dan Mangku juga berperan dalam mengurusi adat. Manti dan Mangku juga dapat menyelenggarakan upacara adat seperti perkawinan. Dalam upacara perkawinan itu dia dapat menjadi saksi utama, karena itu upacara pernikahan juga dapat diselenggarakan di rumahnya. Manti dan Mangku juga boleh dikatakan sebagai juru bicara batin dalam urusan adat.

4. Ketua
Setelah manti dan mangku ada ketua. Ada cukup banyak ketua dan mereka berperan juga dalam masyarakat terutama dalam urusan-urusan adat. Boleh dikatan mereka menjadi tangga pertama dalam urusan-urusan adat. Seorang anggota batin yang hendak menyelenggarakan upacara adat pertama-tama harus berbicara dengan ketua, kemudian ke manti/mangku dan seterusnya kepada batin.

Tradisi Cuci Lantai

Suatu saat saya diundang untuk menghadiri upacara adat cuci lantai di Talang Mamak. Dengan gembira saya menyambut undangan tersebut dan segera hadir pada waktu yang disebutkan. Dengan rasa ingin tahu yang kuat saya mengikuti acara itu dengan baik. Inilah penjelasan pendek saya tentang acara tersebut.

Cuci lantai adalah upacara adat yang berkaitan dengan kelahiran bayi. Bayi yang baru dilahirkan, setelah beberapa lama, dipestakan. Keluarga dan kerabat diundang untuk pesta tersebut khususnya keluarga dari pihak perempuan sebagai ahli waris si bayi. Pada pesta itu si bayi diberi nama dan juga mendapatkan orang tua pengasuh. Ini menarik karena para hadirin yang hadir di pesta punya kesempatan untuk menjadi orang tua pengasuh si anak. Siapa pun boleh asalkan dia punya niat baik dan sungguh-sungguh mau menjadi pengasuh. Bila seseorang sudah mengungkapkan kemauannya maka hal itu dinyatakan kepada para hadirin yang dalam hal ini menjadi semacam saksi. Orang tua pengasuh ini berperan juga memperhatikan si anak dalam kehidupan sosial dalam arti menjadi pembimbingnya. Tentu orang tua menjadi pembimbing pertama pada si bayi, namun orang tua pengasuh ini juga berperan dalam mengarahkan si anak.


Upacara cuci lantai bisa berlangsung beberapa hari, biasanya tiga hari, bisa juga satu hari saja. Itu semua tergantung dari kemampuan finansial keluarga yang bersangkutan. Dalam acara pesta biasanya diadakan judi dan sabung ayam. Belakangan ini pesta juga bisa dimeriahkan dengan keyboard namun hal itu tergantung pada keuangan keluarga yang bersangkutan.



Kepercayaan Talang Mamak

Written By Unknown on Sabtu, 24 November 2012 | Sabtu, November 24, 2012

Artikel berikut ini akan menjelaskan sistem kepercayaan suku Talang Mamak. Yang disebutkan di sini masih sangat sedikit bila dibandingkan dan disaksikan secara langsung praktek-praktek masyarakat Talang Mamak sendiri. Maka berkaitan dengan ini bila Anda ingin mengetahui lebih jauh kepercayaan Talang Mamak maka sebaiknya Anda langsung terjun ke sana dan mengamatinya tentu setelah lebih dulu membaca artikel ini.

1. Kepercayaan pada hantu, tenung dan tahyul
Suku Talang Mamak sangat percaya pada tahyul, roh jahat yang tinggal di tempat-tempat tertentu seperti penghuni rimba, di pohon-pohon besar, hantu kubur dan lain-lain. Karena itu mereka selalu bersikap hati-hati kemana pun mereka berjalan karena takut dimarahi atau ditegur oleh roh-roh tersebut yang dapat menyebabkan sakit atau kematian. Dalam hal ini Talang Mamak berprinsip sederhana, yaitu; roh-roh jahat atau penghuni gaib di mana-mana tidak akan mengganggu jika mereka tidak diganggu oleh manusia.

2. Patalla Guru (Batara Guru)
Suku Talang Mamak percaya pada Patalla Guru, di samping mereka juga percaya pada Yang Mahakuasa yang mengatur seluruh jagat raya (dunia). Talang Mamak mengenal juga nama Allah, hal ini dapat dilihat dari mantera-mantera atau kata-kata mereka yang diucapkan selesai menguburkan mayat atau dalam upacara pengobatan.

3. Kumantan
Masyarakat Talang Mamak mempunyai acara adat yang namanya kumantan, suatu acara perdukunan untuk pengobatan. Acara ini biasanya dipimpin oleh seorang kumantan yakni seseorang yang disegani dan dihormati sebagai pengantara/penghubung antara Patalla Guru dan juga dengan roh-roh jahat. Kumantan juga menyampaikan dan mengemukakan macam kehendak Patalla serta kemauan dan permintaan roh-roh gaib, termasuk Patalla itu sendiri.

Menurut kepercayaan mereka, kumantan sangat dekat dengan yang gaib serta dapat berhubungan dengan yang gaib itu. Kumantan dapat juga menolong roh orang yang baru meninggal, menunjukkan jalan baginya di dalam gaib itu. Talang Mamak juga percaya bahwa setelah mati manusia akan menjalani kehidupan yg lain. Kumantan dapat memanggil Patalla dan roh-roh gaib yg lain dengan mengadakan upacara tertentu. Roh gaib atau Patalla akan datang dan menjelma masuk ke dalam dirinya (kumantan). Saat seperti itulah kumantan berkata-kata menyampaikan atau tuntutan roh gaib itu.



 
Copyright © 2016. KEARIFAN LOKAL - All Rights Reserved
Published by fioren sipayung
Proudly powered by Blogger